<p style="text-align:justify; margin:0cm 0cm 8pt; margin-right:0cm; margin-left:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%">Peningkatan pemahaman psikologis dalam penggunaan media sosial menjadi kunci utama melindungi generasi muda dari dampak negatif dunia digital, hingga gangguan kesehatan mental. Hal tersebut diungkapkan Kepala Bidang Komunikasi Publik Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Badung, I Gusti Agung Mayun Trisna Permana, dalam kegiatan literasi psikologi media di SMP Negeri 6 Mengwi, Rabu (26/8/2026).</span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm 0cm 8pt; margin-right:0cm; margin-left:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%">Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa di era digital saat ini, anak-anak tidak cukup hanya diajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga harus memahami dampak psikologis dari setiap konten yang mereka lihat dan bagikan.</span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm 0cm 8pt; margin-right:0cm; margin-left:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%">"Anak-anak perlu memahami bagaimana setiap informasi memengaruhi perasaan, pikiran, dan perilaku. Untuk itu, mereka perlu dibekali kemampuan mengenali emosi, membedakan fakta dan opini, serta berhati-hati sebelum menekan tombol kirim. Hal ini sangat penting agar mereka tidak menjadi korban maupun pelaku perundungan siber, dan tetap memiliki kesehatan mental yang baik di tengah derasnya arus informasi," jelasnya.</span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm 0cm 8pt; margin-right:0cm; margin-left:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%">Kepala SMP Negeri 6 Mengwi, I Ketut Arka Yasa, mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan literasi psikologi media di sekolahnya. Menurutnya, pemahaman psikologis sangat penting bagi para siswa dalam berinteraksi di ruang digital. Ia mengungkapkan, di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan penggunaan media sosial yang masif di kalangan pelajar, pemahaman tentang dampak psikologis dari konten yang dikonsumsi menjadi kebutuhan mendesak.  "Kami berharap melalui kegiatan ini, siswa-siswi kami dapat lebih bijak, lebih tangguh secara mental, dan lebih bertanggung jawab dalam menggunakan media sosial sehari-hari," ujarnya.</span></span></span></span></span></p> <p style="margin:0cm; text-align:justify; margin-right:0cm; margin-left:0cm"><span style="font-size:12pt"><span style="font-family:"Times New Roman",serif"><span lang="IN" style="font-family:"Calibri",sans-serif">Kegiatan tersebut menghadirkan dua narasumber. Narasumber pertama, psikolog klinis dari Rumah Sakit Dharma Yadnya, Ida Bagus Jendra Wijaya, memaparkan materi bertajuk "Menjaga Kesehatan Mental di Era Digital".</span></span></span></p> <p style="margin:0cm; text-align:justify; margin-right:0cm; margin-left:0cm"><span style="font-size:12pt"><span style="font-family:"Times New Roman",serif"><span lang="IN" style="font-family:"Calibri",sans-serif">Dalam paparannya, ia mengungkapkan bahwa sebanyak 88 % remaja menggunakan media sosial lebih dari tiga jam setiap hari. Bahkan, sekitar 20% - 30 % remaja tercatat mengalami kecanduan media sosial. Guna mencegah dampak buruk tersebut, ia membeberkan tiga langkah utama agar remaja terhindar dari kecanduan media sosial:</span> <span lang="IN" style="font-family:"Calibri",sans-serif">pertama dengan melakukan <i>detoks</i> digital dengan  membatasi durasi penggunaan, mengambil jeda secara berkala, dan fokus pada hal-hal yang penting. Kedua dengan mengelola stres: menyeleksi "makanan otak" dengan memilih konten yang sehat serta memblokir akun-akun yang memicu stres, rasa marah, maupun rasa tidak aman <i>(insecure</i>). Ketiga menerapkan gaya hidup aktif dengan menjaga kesehatan fisik dan memberanikan diri untuk bercerita kepada orang yang dipercaya saat menghadapi masalah.</span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm 0cm 8pt; margin-right:0cm; margin-left:0cm"> </p> <p style="text-align:justify; margin:0cm 0cm 8pt; margin-right:0cm; margin-left:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:107%"><span style="font-family:Calibri,sans-serif"><span lang="IN" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:107%">Narasumber ke dua,  I Putu Gede Wira Adi Utama seorang konten kreator yang sudah wara-wiri di media sosial, membawakan meteri tentang  “Bahaya Besosial Media dari Filosofis Mahabarata. Melalui paparannya ia menegaskan bahwa dinamika ruang digital saat ini memiliki kemiripan dengan konflik sejarah masa lalu, di mana ambisi, ego, dan dengki menjadi akar dari perpecahan. Hal ini tercermin dari perubahan perilaku masyarakat yang kini terancam oleh budaya membandingkan diri (<i>social comparison</i>), kecanduan, serta penyebaran hoaks dan komentar jahat.  Sebuah pergeseran fenomena dari "mulutmu harimau mu" menjadi "jempolmu anak panahmu". Ibarat tokoh Sangkuni yang melambangkan provokasi di area abu-abu dan kebohongan Yudistira yang berdampak fatal. penggunaan media sosial tanpa berpikir panjang dapat mendatangkan penyesalan dan kehancuran mental. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk mengedepankan pengendalian diri, bersikap bijak terhadap perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), serta memetik pelajaran dari sejarah agar tidak mengulangi kesalahan serupa di dunia digital.</span></span></span></span></span></p>
Lindungi Remaja di Era Digital, Diskominfo Badung Gandeng Psikolog dan Konten Kreator
27 Aug 2026